SEJARAH DESA CANDISARI

Menurut cerita turun temurun dari para leluhur Desa, nama Desa Candisari sangat mirip dengan  cerita wayang, berawal dari kisah tokoh pewayangan yaitu Raden Janoko satria penengah pandawa yang diperintah oleh gurunya yaitu Begawan Durna untuk bertapa Ngalong dipohon Duwet, dalam perjalanannya Raden Harjuno ( Janoko) ditemani tiga orang punokawan yaitu Ki Lurah Semar Brodronoyo, Nala Gareng dan Pertuk Kantong bolong.

Sambil menunggu Bendoronya ( Raden Janoko ) bertapa, Ki Lurah Semar beristirahat di daerah Jetis Kebonagung, yang sampai sekarang tempat petilasan Ki Lurah semar masih di keramatkan oleh penduduk di sekitar wilayah tersebut dan dinamakan Punden Eyang Bodronoyo. Sedangkan petruk menunggui Raden Janoko yang sedang bertapa Ngalong, dan Gareng di suruh untuk mencari makanan, diceritakan dalam mencari makanan itu Gareng  berjalan mencari temannya ( Bolo dalam  bahasa jawa ) ,dan Desa tempat sahabat ( Bolo ) gareng itu sekarang menjadi nama desa Bologarang tepatnya di Kecamatan Penawangan,yang berawal dari sebutan Bolo gareng ( sahabat Gareng ), setelah bertemu temannya dan mendapat makanan Garengpun  pulang sambil  berlari karena kemalaman di hutan dan takut akan bertemu dengan Denawa ( Raksasa ), sambil berlari terus Gareng memanggil adiknya yaitu Petruk kemudian sambil terus berlari gareng mendengar suara sahutan dari Petruk Candolo… Candolo , yang artinya tempat yang tinggi , kemudian petruk memanggil lagi ,, kang Gareeeng  dan suara panggilan dari Petruk itu di dengar oleh Gareng dengan nada ,Sari.

Dari kata Candolo sari situlah awal mula nama Desa Candisari yang artinya tempat yang tinggi, inilah legenda yang beredar di Masyarakat Desa Candisari soal kebenaran cerita itu Allahhu Alam, akan tetapi kita sebagai generasi penerus selayaknya untuk menghormati, menghargai dan melestarikan tradisi dan budaya dari leluhur selama tidak melanggar Norma

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan